28 Des 2009

Cinta Seorang Abu Bakar R.A. Terhadap Rasulullah

bismillah..

Di dalam Gua Tsur wajah Abu Bakar pucat pasi. Langkah kaki para pemuda Quraisy tidak lagi terdengar samar. Tak terasa tubuhnya bergetar hebat, betapa tidak, dari celah gua ia mampu melihat para pemburu itu berada di atas kepalanya. Setengah berbisik berkatalah Abu Bakar.

“Wahai Rasul Allah, jika mereka melihat ke kaki-kaki mereka, sesungguhnya mereka pasti melihat kita berdua”.


Rasulullah memandang Abu Bakar penuh makna. Ditepuknya punggung sahabat dekatnya ini pelan sambil berujar “Janganlah engkau kira, kita hanya berdua. Sesungguhnya kita bertiga, dan yang ketiga adalah Dia, yang menggenggam kekuasaan maha, Allah”.

Sejenak ketenangan menyapa Abu Bakar. Sama sekali ia tidak mengkhawatirkan keselamatannya. Kematian baginya bukan apa-apa, ia hanya lelaki biasa. Sedang, untuk lelaki tampan yang kini dekat di sampingnya, keselamatan di atas mati dan hidupnya. Bagaimana semesta jadinya tanpa penerang. Bagaimana Madinah jika harus kehilangan purnama. Bagaimana dunia tanpa benderang penyampai wahyu. Sungguh, ia tak gentar dengan tajam mata pedang para pemuda Quraisy, yang akan merobek lambung serta menumpahkan darahnya. Sungguh, ia tidak khawatir runcing anak panah yang akan menghunjam setiap jengkal tubuhnya. Ia hanya takut, Muhammad, ya Muhammad.. mereka membunuh Muhammad.

***


Berdua mereka berhadapan, dan mereka sepakat untuk bergantian berjaga. Abu Bakar memandang wajah syahdu di depannya dalam hening. Setiap guratan di wajah indah itu ia perhatikan seksama. Aduhai betapa ia mencintai putra Abdullah. Kelelahan yang mendera setelah berperjalanan jauh, seketika seperti ditelan kegelapan gua. Wajah di depannya yang saat itu berada nyata, meleburkan penat yang ia rasa. Hanya ada satu nama yang berdebur dalam dadanya. Cinta.


Sejenak kemudian, Muhammad melabuhkan kepalanya di pangkuan Abu Bakar. Dan seperti anak kecil, Abu Bakar berenang dalam samudera kegembiraan yang sempurna. Tak ada yang dapat memesonakannya selama hidup kecuali saat kepala Nabi yang ummi berbantalkan kedua pahanya. Mata Rasulullah terpejam. Nafas harum itu terhembus satu-satu, menyapa wajah Abu Bakar yang sangat dekat. Abu Bakar tersenyum, sepenuh kalbu ia menatapnya lagi. Tak jenuh, tak bosan. Dan seketika wajahnya muram. Ia teringat perlakuan orang-orang Quraisy yang memburu Purnama Madinah seperti memburu hewan buruan.


Bagaimana mungkin mereka begitu keji mengganggu cucu Abdul Muthalib, yang begitu santun dan amanah. Mendung di wajah Abu bakar belum juga surut. Sebuah kuntum azzam memekar di kedalaman hatinya, begitu semerbak. “Selama hayat berada dalam raga, aku Abu Bakar, akan selalu berada di sampingmu, untuk membelamu dan tak akan membiarkan sesiapapun menganggumu”.


Sunyi tetap terasa. Gua itu begitu dingin dan remang-remang. Abu Bakar menyandarkan punggung di dinding gua. Rasulullah, masih saja mengalun dalam istirahatnya. Dan tiba-tiba saja, seekor ular mendesis-desis perlahan mendatangi kaki Abu Bakar yang terlentang. Abu Bakar menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu dienyahkannya dari benak, tak ingin ia mengganggu tidur nyaman Rasulullah. Bagaimana mungkin, ia tega membangunkan kekasih itu.

Abu Bakar meringis, ketika ular itu menggigit pergelangan kakinya, tapi kakinya tetap saja tak bergerak sedikitpun. Dan ular itu pergi setelah beberapa lama. Dalam hening, sekujur tubuhnya terasa panas. Bisa ular segera menjalar cepat. Abu Bakar menangis diam-diam. Rasa sakit itu tak dapat ditahan lagi. Tanpa sengaja, air matanya menetes mengenai pipi Rasulullah yang tengah berbaring. Abu Bakar menghentikan tangisannya, kekhawatirannya terbukti, Rasulullah terjaga dan menatapnya penuh rasa ingin tahu.


“Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini” suara Rasulullah memenuhi udara Gua.

“Tentu saja tidak, saya ridha dan ikhlas mengikutimu kemana pun” potong Abu Bakar masih dalam kesakitan.

“Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air mata?”

“Seekor ular, baru saja menggigit saya, wahai putra Abdullah, dan bisanya menjalar begitu cepat”

Rasulullah menatap Abu Bakar penuh keheranan, tak seberapa lama bibir manisnya bergerak “Mengapa engkau tidak menghindarinya?”

“Saya khawatir membangunkan engkau dari lelap” jawab Abu Bakar sendu. Sebenarnya ia kini menyesal karena tidak dapat menahan air matanya hingga mengenai pipi Rasulullah dan membuatnya terjaga.


Saat itu air mata bukan milik Abu Bakar saja. Selanjutnya mata Al-Musthafa berkabut dan bening air mata tergenang di pelupuknya. Betapa indah sebuah ukhuwah.


“Sungguh bahagia, aku memiliki seorang seperti mu wahai putra Abu Quhafah. Sesungguhnya Allah sebaik-baik pemberi balasan”. Tanpa menunggu waktu, dengan penuh kasih sayang, Al-Musthafa meraih pergelangan kaki yang digigit ular. Dengan mengagungkan nama Allah pencipta semesta, Nabi mengusap bekas gigitan itu dengan ludahnya. Maha suci Allah, seketika rasa sakit itu tak lagi ada. Abu Bakar segera menarik kakinya karena malu. Nabi masih memandangnya sayang.


“Bagaimana mungkin, mereka para kafir tega menyakiti manusia indah seperti mu. Bagaimana mungkin?” nyaring hati Abu Bakar kemudian.


Gua Tsur kembali ditelan senyap. Kini giliran Abu Bakar yang beristirahat dan Rasulullah berjaga. Dan, Abu Bakar menggeleng kuat-kuat ketika Rasulullah menawarkan pangkuannya. Tak akan rela, dirinya membebani pangkuan penuh berkah itu..



www.eramuslim.com

20 Des 2009

Kenapa PERBEDAAN itu harus ada ya?

Pertanyaan yang nggak pernah kejawab nih. Gw bingung, pertanyaan-pertanyaan kayak gini selalu mondar-mandir seliweran di otak gw. Kenapa sih harus ada perbedaan? Biar dunia jadi berwarna ya? Atau biar alur hidup jalannya nggak monoton? It's okay kalo perbedaan itu ada, tapi yang gw bingung kenapa diantara perbedaan-perbedaan itu ada yang sangat mencolok dan malah dibesar-besarkan ya? Haduh gw nggak tau deh, soalnya realita yang gw alami sehari-hari itu udah aneh banget. Dan nggak tau lagi harus gimana nyikapin perbedaan-perbedaan ini. Mungkin kalo gw bilang perbedaan, artinya bakal universal ya. Gw coba uraikan satu-satu apa aja yang ada di otak gw, yang belum kejawab. Dan tentunya ini nggak semuanya, cuma sebagian kecil. Numpang share ya.

Kenapa ya di Islam ada sunni sama syiah? Dan anehnya, masing-masing diantaranya saling menjelek-jelekkan. Haduh, gimana mau bersatu kalo berantem mulu. Saling mengecap kafir lah, golongan sesat lah, bukan bagian dari islam lah, gw bingung. Musuh-musuh kita sudah semakin kuat dan solid, eh kitanya malah perang saudara. Siap-siap cing yahudi bakal menyerang Islam kalo kitanya kayak gini-gini terus. Toh mau sunni kek, mau syiah kek, tetep tujuannya sama kan yaitu ALLAH SWT. Gw bingung kenapa mereka harus berpisah, bukannya mengesampingkan dulu kek perbedaan-perbedaan yang ada buat ngelawan yahudi dan musuh-musuh Islam lainnya?

Kenapa ya partai-partai Islam di Indonesia tidak mau bersatu, bergabung, dan berkoalisi? Koalisinya malah sama partai-partai sosialis dan partai-partai tetek bengek lainnya? Giliran ditanya kenapa nggak mau bergabung, alasannya karena banyak terdapat perbedaan, beda manhaj lah, beda visi lah, beda cara lah. Au ah gelap! Katanya tujuannya demi Islam, bukannya mengesampingkan dulu kek perbedaan-perbedaan yang ada buat memajukan Islam pada bangsa ini, eh malah pada nggak mau bergabung. Dan herannya, sangat-sangat mengherankan, sama partai sosialis malah mau bergabung! Kalo dihitung-hitung perbedaannya, sesama partai Islam dan partai sosialis, lebih banyak mana sih? Haduh haduh, jangan salahin gw ya kalo gw akhirnya bilang orientasi partai-partai Islam di Indonesia tuh udah KEKUASAAN bukannya ISLAM lagi. Masih mau bilang apa? Gw bingung kenapa bisa kayak gini. Ngelakuin segala cara buat ngejar kekuasaan. Katanya, gimana kita mau merubah sistem kalo kita nggak berkuasa? Oke fine gw terima, tapi kalo cara ngedapetin kekuasaannya dengan menghalalkan segala cara termasuk mendukung calon presiden yang dzolim kayak gini, sori men gw udah nggak bisa nerima! Mau lo hafal satu Al-Quran kek, 320 ribu hadist kek, kalo pola pikir lo kayak gini, sori men, maaf maaf aja. Haduh gw bingung. Gw terus dan terus bermimpi coba ya seluruh partai-partai Islam di Indonesia, organisasi-organisasi Islam di Indonesia, gerakan-gerakan Islam di Indonesia, himpunan-himpunan Islam di Indonesia, aliran-aliran Islam di Indonesia tuh kalo bersatu semua kekuatannya jadi kayak apa.

Kenapa ya ada anak gaul sama anak biasa-biasa aja? Kenapa ya ada anak orang kaya sama anak orang miskin? Kenapa ya anak-anak orang kaya pada sombong-sombong banget nggak mau main sama anak orang miskin? Kenapa ya anak-anak orang miskin pada ngatain anak-anak orang kaya tuh eksklusif dan sombong-sombong? Kenapa ya anak orang kaya jarang banget BERGAUL sama anak-anak orang miskin, hampir nggak pernah malah? Duduk semeja makan bareng di kantin aja hampir nggak pernah liat, maunya makan bareng temen-temennya aja. Yang satunya juga, bukannya mencoba bergaul memulai pertemanan, malah selalu ngejauhin. Gw bingung! Jujur gw sangat bingung! Kenapa ya kita semua nggak bisa bersatu? Saling deket gitu satu sama lain? Masa harus nunggu Imam Mahdi dulu gitu buat nyiptain perdamaian dan kerukunan, serta kedekatan emosional diantara para rakyatnya. Sekali lagi, gw sangat bingung. Kalo akar permasalahan yang membedakan ini semua adalah status ekonomi, harta yang dipunya, ketampanan / kecantikan, dan semacamnya, maka sama ratakan saja ya ALLAH biar nggak ada perbedaan lagi.

Kenapa ya ada anak musholla sama anak kantin? Kenapa ya ada anak SO sama anak BKM? Kenapa ya ada anak aktivis sama anak nongkrong? Kenapa ya ada anak yang dengerin lagu totalitas perjuangan aja udah langsung risih? Kenapa ya ada anak yang dengerin lagu nasyid juga risih? Kenapa ya ada anak yang dengerin lagu metal juga risih (gw juga sih sebenernya)? Haduh gw bingung. Dan itu semua it's okay kalo cuma sekedar perbedaan, tapi ini udah saling menjelek-jelekkan men! Gimana kita nggak ancur coba? Au ah gw bingung! Kenapa ya ada anak yang acuh banget sama keadaan di fakultasnya (mikirin diri sendiri terus), sementara ada anak yang care banget sama keadaan fakultasnya? Kenapa ya ada anak yang nggak pernah mau ikut aksi, tapi ada anak yang kerjaannya aksi mulu? Kenapa ya ada anak yang nggak mau ikut organisasi apa-apa, sementara ada anak yang hampir semua organisasi diikutin? Kenapa ya rata-rata cewek-cewek (kalo cowok jarang sih) pada suka banget bikin geng-gengan? Kenapa sih sesama mahasiswa masih suka aja main sindir-sindiran? Kenapa sih ada anak yang ngakunya udah pada gede-gede (rata-rata umurnya 19 tahun ke atas) tapi masih suka ambekan dan marahan yang lama banget sama temennya padahal kebanyakan cuma gara-gara hal sepele?

Intinya gw bingung, bingung, bingung, bingung, dan bingung kenapa PERBEDAAN itu harus ada kalo ujungnya malah memecah belah kayak gini! Mudah-mudahan, gw, yang notabene juga masih sama aja, belum bisa menyikapi perbedaan-perbedaan itu, dan teman-teman semua, kawan-kawan semua, sahabat-sahabat semua yang ngerasa, bisa sadar dan meminimalisir perbedaan-perbedaan itu, syukur-syukur malah menghilngkannya perlahan-lahan, amin. Gw sih sangat-sangat tidak bermasalah dengan perbedaan-perbedaan yang ada. Gw sangat menerima segala perbedaan-perbedaan yang ada, serta mencoba menghargai dan menghormatinya, tapi kalo udah kebablasan kayak gini, what should I do? Gw bingung.

2 Des 2009

Cacing Tambang

sumber : http://blogsehatnilna.wordpress.com/2009/02/28/cacing-cacing-berbahaya-yang-hidup-di-usus-manusia/

Cacing ini memiliki dua jenis yaitu Necator americanus dan Ancylostoma duodenale. Disebut cacing tambang karena dahulunya banyak ditemukan pada buruh tambang di eropa. Necator americanus menyebabkan penyakit nekatoriasis dan Ancylostoma duodenale menyebabkan penyakit ankilostomiasis. Kedua jenis cacing ini banyak menginfeksi orang-orang di sekitar pertambangan dan perkebunan. N. americanus dan A. duodenale hidup di rongga usus halus dengan mulut melekat pada daging dinding usus. Tubuh Necator americanus mirip huruf S. Panjang cacing betina kurang lebih 1 cm. Setiap satu cacing dapat bertelur 9000 ekor per hari. Sementara itu panjang cacing jantan kurang lebih 0,8 cm. Ancylostoma duodenale lebih mirip dengan huruf C. Setiap ekor Ancylostoma duodenale dapat menghasilkan 28.000 telur per hari. Telur cacing tambang keluar bersamaan dengan feces. Dalam waktu 1-1,5 hari, telur akan menetas menjadi larva, yang disebut larva rhabditiform. Tiga hari kemudian larva berubah lagi menjadi larva filarifom dimana larva ini dapat menembus kulit kaki dan masuk ke dalam tubuh manusia. Di tubuh manusia, cacing tambang bergerak mengikuti aliran darah, menuju jantung, paru-paru, tenggorokan, kemudian tertelan dan masuk ke dalam usus. Di dalam usus, larva menjadi cacing dewasa yang siap menghisap darah. Setiap ekor cacing N. americanus akan menghilangkan 0,005-1 cc darah per hari sedangkan setiap ekor cacing A. duodenale akan menyebabkan manusia kehilangan 0,08-0,34 cc per hari. Oleh karena itulah, cacing tambang menjadi berbahaya karena dapat menyebabkan anemia pada manusia. Di Indonesia, insiden akibat cacing tambang tinggi pada daerah pedesaan, terutama perkebunan. Infeksi cacing ini disebabkan oleh kebiasaan masyarakat desa yang BAB di tanah dan pemakaian feces sebagai pupuk. Selain lewat kaki, cacing tambang juga bisa masuk ke tubuh manusia melalui makanan yang masuk ke mulut.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More