28 Des 2009

Menulis hal-hal kecil


Apa yang Anda pikirkan sebelum menulis? Apa saja tema yang hendak ditulis? Apa ide yang ada di pikiran saat ingin menulis? Sederet pertanyaan ini perlu dijawab. Beberapa teman yang pernah saya tanya tentang hal itu mengaku ingin menulis yang bagus, berharap bisa menulis yang mencerahkan, bisa menulis hal-hal besar, bisa menulis sesuatu yang berat agar terlihat nyata intelektualitasnya sebagai penulis. Well. Keinginan seperti itu sah-sah saja. Boleh-boleh saja. Tak ada yang melarang. Tapi, kita harus mengukur diri dan interospeksi: “siapa kita saat ini?”
Bukan bermaksud membuat pesimis kawan-kawan yang hendak menulis. Tidak. Tapi kita perlu berpikir bahwa orang yang mahir menulis hal-hal besar, besar kemungkinan pernah menulis hal-hal kecil, atau memang terbiasa menulis hal-hal kecil. Sebabnya, keterampilan manusia biasanya berjenjang: dari yang ringan terlebih dahulu, yang sedikit berat, dan berat, plus sangat berat. Hal ini wajar, karena memang manusia terbiasa melakukannya dengan cara “berurutan”, dari mudah ke sulit. Bukan sebaliknya.
Bagi para pemula yang hendak menulis, jangan terlalu lama berpikir soal ide dan tema apa yang hendak ditulis. Lakukanlah sebuah coretan kecil di kertas. Atau langsung tulis saja di papan ketik sesuatu yang menurut kita perlu ditulis. Hal yang ringan saja. Hal yang kecil yang bisa kita kuasai. Misalnya, kita bisa menulis tentang disiplin sehari-hari (pekerjaan, kegiatan pengajian, sekolah, kuliah dan sejenisnya)–misalnya tentang memanfaatkan waktu; bisa pula menuliskan mengenai suasana rumah yang sering dilihat setiap hari; boleh juga menulis perilaku penghuni rumah kos yang sangat kita kenal atau keluarga sendiri yang setiap hari bertemu dan bercengkrama (tuliskan karakter mereka, cara bicara mereka, cara mereka berpendapat, dll). Bisa juga membahas tentang perlunya menjalin silaturahmi.
Hal kecil lain dalam pekerjaan juga banyak: cara menjaga hubungan, menikmati pekerjaan dsb. Ketika kita bepergian, pasti ada hal yang menarik dan unik, tulislah semampu kita. Misalnya, tentang kemacetan, tentang kereta rel listrik jabodetabek yang sesak padat saat jam pergi dan jam pulang kerja. Semua hal-hal kecil bisa kita tuliskan. Toh, yang terpenting adalah memulai menulis. Bukankah setelah kita sering menulis hal-hal kecil pasti ada pelajaran di setiap apa yang kita telah tulis? Rasa-rasanya kita memang perlu belajar memaknai sebuah proses. Itulah perlunya berlatih.
Bila hal-hal kecil telah dikuasai, maka hal-hal besar adalah tantangan tersendiri yang perlu dicoba dijajal. Orang yang terbiasa mengendarai sepeda, dia akan tertantang mengendarai sepeda motor. Belajar naik sepeda pun, ada seninya: Pelan, perlahan, nikmati, hati-hati, dan percaya diri. Pun, tidak bisa memaksakan keinginan untuk langsung ngebut, karena bisa jadi benjut gara-gara jatuh dari sepeda karena kehilangan keseimbangan. Mengendarai sepeda motor juga bertahap. Valentino Rossi, juara dunia 7 kali, pasti di awal-awal belajar mengendarai si kuda besi itu tak langsung di kelas MotoGP, tapi di kelas 125 cc, naik ke 250 CC, lalu ke 500 cc. Bertahap dan setiap tahapnya banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik.
Menulis adalah keterampilan unik. Makin sering menulis, maka makin lihai menulis. Banyak hal kecil yang perlu ditulis, dan biasanya hal itu sangat dekat dengan kehidupan kita dan insya Allah mudah kita kuasai. Cobalah berpikir sejenak. Bukan hanya bagi pemula, tapi bagi penulis senior pun tetap perlu merenungkan hal-hal kecil yang bisa menjadi tema tulisan. Penulis buku-buku jenis Chicken Soup, Jack Canfield, kerap menuliskan hal-hal sederhana yang jarang ditulis oleh penulis lain. Tapi tetap karyanya banyak diminati. Karya yang inspiratif. Mudah dipahami, sederhana, lugas dan langsung kena sasaran. Jadi, siapa bilang menulis hal-hal kecil, kekuatannya menjadi remeh. Tidak selalu, tuh.
Jadi, mulailah belajar menulis dengan menuliskan hal-hal kecil yang sangat dekat dengan kehidupan kita dan sangat kita kuasai. Setelah sering menulis hal-hal kecil, bukan tak mungkin kita bisa menulis hal-hal besar yang sangat kita kuasai karena belajar banyak dari hal-hal kecil yang telah kita tulis. Sehingga tulisan kita terasa ringan mengalir dan memudahkan pembaca memahami apa yang kita maksud, meskipun tema yang kita angkat terbilang berat. Sebab, tujuan menulis bukanlah agar kita disebut pandai oleh pembaca, tetapi untuk mendidik pembaca agar mereka pandai.

0 comment:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More