28 Des 2009

Tipu daya kaum Yahudi terhadap larangan Allah SWT

Allah telah memuliakan Nabi Musa as. pada hari Sabtu, dan ia memerintahkan kepada kaumnya agar tidak bekerja pada hari itu dengan segala urusan keduniaan seperti jual-beli, perdagangan, berwasiat dan lain-lain.

Pada suatu negeri yang bernama Ailah, penduduknya adalah para nelayan penangkap ikan. Allah mengutus kepada mereka Nabi Daud as. membawa risalah dari Tuhan berupa larangan bagi para nelayan itu untuk menangkap ikan pada hari Sabtu, sedangkan pada hari-hari lain dibolehkan.

Maka Nabi Daud pun menyampaikan risalah Tuhan itu kepada penduduk Ailah, tetapi mereka menolaknya. Lalu Allah mencuba mereka dengan suatu cubaan iaitu dijadikan pada setiap hari Sabtu semua ikan berkumpul di laut mereka, sedangkan pada hari lainnya seekor ikan pun tidak mereka temui. Sehingga timbullah kesusahan yang panjang, dan Allah menimpakan kelaparan kepada mereka.

Akhirnya mereka berusaha untuk tetap menangkap ikan pada hari Sabtu. Mereka membuat benteng dan sungai-sungai itu ke dalam benteng-benteng pada hari Sabtu. Bila mereka melihat benteng itu telah penuh dengan ikan, maka mereka menutup muara sungai tersebut.

Para ulama, hukama dan orang-orang zahid berulang-ulang menasihati mereka, namun mereka tetap sahaja melakukan pelanggaran tersebut. Sehingga ulama-ulama itu berpisah daripada kehidupan mereka kerana khawatir akan terkena bencana bersama-sama mereka yang engkar.

Ketika Allah hendak menyiksa mereka, Allah biarkan mereka berbuat sesuka hati mereka selama dua tahun. Di samping itu Allah tetap mengutus kepada mereka orang-orang yang akan memberikan peringatan dan nasihat. Namun mereka tetap tidak mahu menerima peringatan dan nasihat.

Akhirnya, pada suatu hari para ulama, hukama dan orang-orang zahid itu memasuki kota tersebut, mereka tidak berjumpa dengan seorang pun. Kemudian mereka membuka pintu-pintu rumah dan masuk ke dalamnya, tiba-tiba mereka melihat lelaki dan perempuan telah berubah menjadi kera-kera atau monyet.

Allah SWT berfirman bermaksud: “Maka Tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan kami timpakan kepada orang-orang yang zalim dengan seksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, kami katakan kepadanya “Jadilah kamu kera yang hina.” (Al-A’raf: 165-166) 
Allah telah menceritakan kisah ini kepada kekasihnya Muhammad SAW:

1. Firman Allah SWT bermaksud: “Sesungguhnya diwajibkan (menghormati) hari Sabtu atas orang orang (Yahudi) yang berselisih padanya. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar akan memberi putusan di antara mereka di hari kiamat terhadap apa yang telah mereka perselisihkan itu.”(An-Nahl: 124) 
2. Firman Allah SWT bermaksud: “Dan sesungguhnya kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina.”(Al-Baqarah: 65) 
3. Firman Allah SWT bermaksud: “Dan telah Kami angkat ke (atas) kepala mereka bukit Thursina untuk menerima perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka dan Kami perintahkan kepada mereka: “Masuklah pintu gerbang itu sambil bersujud.” Dan Kami perintahkan pula kepada mereka “Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu, dan Kami mengambil dari mereka perjanjian yang kukuh.” (An-Nisa’: 154) 
4. Firman Allah SWT bermaksud: “Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, diwaktu datang kepada mereka ikan-ikan yang berada di sekitar mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencuba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (Al-A’raaf: 163) 
Maha Suci Allah Zat yang perbuatan-Nya tidak sama dengan perbuatan makhluk. Tidak mengetahui hikmat yang terkandung di dalamnya melainkan mereka yang mempunyai hati yang bersih dan terbuka. Demikianlah seekor ikan yang diambil oleh orang Yahudi telah menjadikan mereka kera-kera yang hina. Dan seekor ikan yang diambil oleh nabi, menjadi raja segala ikan. Iblis yang asal kiblatnya adalah Arsy akhirnya menjadi terhina, sedangkan Umar bin Khattab yang asal kiblatnya adalah berhala menjadi orang yang dicintai dan disenangi.

Tentang makna hari Sabtu ini ada beberapa pendapat. Sebahagian ulama mengatakan bahawa Sabtu itu ertinya ‘Agung’ sebab hari Sabtu itu diagung-agungkan oleh orang-orang Yahudi. Ulama yang lain mengatakan bahawa Sabtu itu ertinya istirehat, kerana orang-orang Yahudi pada hari Sabtu itu beristirehat daripada urusan duniawi.

Dikisahkan bahawa ketika ditanyakan kepada orang-orang Yahudi: “Apakah sebabnya kamu semua tidak bekerja dengan urusan duniawi pada hari Sabtu? Mereka beberapa orang Yahudi datang menghadap Rasulullah SAW, mereka bertanya: Ya Muhammad, ceritakanlah ke pada kami apa yang telah diciptakan Allah pada hari-hari dalam seminggu?”

Rasulullah SAW menjawab: “Pada hari Ahad, Allah menciptakan langit dan bumi. Pada hari Isnin, Allah menciptakan gunung-ganang. Pada hari Selasa Allah menciptakan bintang. Pada hari Rabu Allah menciptakan cahaya. Pada hari Khamis Allah menciptakan Syurga dan neraka. Dan pada hari Jumaat, Allah menciptakan Adam dan Hawa. Orang Yahudi itu berkata: Baginda benar, apabila baginda sempurnakan jawapan tersebut.”

Rasulullah bertanya: “Apakah kesempurnaannya itu? Mereka menjawab: Ketika Allah telah menyempurnakan penciptaan langit dan bumi, maka Ia duduk bersandar dengan menyilangkan kedua belah kaki-Nya dan beristirehat, dan itu terjadi pada hari Sabtu. Itulah sebabnya kami jadikan hari Sabtu itu sebagai hari raya kami dan kami berehat pada hari itu.”

Mendengar perkataan Yahudi itu Rasulullah sangat kecewa. Maka Allah SWT menurunkan wahyu yang bermaksud: “Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit pun tidak ditimpa keletihan“ (Qaaf: 38) 
Keletihan itu hanya menimpa kepada orang-orang yang bekerja dengan menggunakan anggota badan. Sedang Allah SWT menciptakan sesuatu itu hanya dengan ucapan, maka akan jadilah segala apa yang dikehendaki-Nya.
Firman Allah SWT bermaksud: “Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata.” (Al-Qamar: 50) 
Firman Allah SWT bermaksud: “Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya “kun (jadilah),” maka jadilah ia.” (An-Nahl: 40) Sesungguhnya orang-orang Yahudi telah melanggar perintah Allah pada hari yang ditetapkan, maka Allah merubah wajah mereka. Bagi orang-orang Mukmin telah berbuat taat kepada Allah dan menunaikan solat Jumaat, maka Allah merubah dosa-dosa mereka menjadi kebaikan. Firman Allah SWT ertinya: “Maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Furqan: 70) Allah tidaklah merubah rupa seorang Yahudi itu kerana mereka menangkap ikan, namun mereka dirubahkan kerana mereka telah meremehkan perintah Allah SWT, dan mengerjakan larangan-Nya.

Dalam sebuah hikayat dikisahkan, bahawa seorang yang terkenal kefasikan dan kejahatannya, suka minum arak dan membuat kemaksiatan yang lainnya, pemuda tersebut bernama Utbah Al-Ghulam. Pada suatu hari ia mengikuti majlis pengajian Hasan Al-Basyri. Di situ ia mendengar salah seorang qari membaca ayat Al-Quran: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Hadid: 16) Kemudian Syeikh menafsirkan ayat tersebut, dan membahasnya dengan penyampaian yang baik sehingga sangat berkesan di hati pendengarnya. Orang-orang yang hadir di situ mencucurkan air matanya kerana merasa terharu.

Seorang pemuda bangun di antara mereka dan berkata: “Wahai imam, apakah Allah SWT akan menerima taubat orang yang durhaka seperti saya? Syeikh itu menjawab: Ya, Allah akan menerima taubatmu, sekalipun kejahatanmu itu seperti Utbah Al-Ghulam.”

Ketika Utbah mendengar perkataan Syeikh tersebut, maka wajahnya berubah menjadi pucat, dan menggigil seluruh tubuhnya, lalu ia memekik dengan kerasnya sehingga ia tidak sedarkan diri.

Setelah ia sedar kembali, maka ia menghampiri Syeikh tersebut dan duduk di dekatnya, lalu Syeikh tersebut melafazkan sebuah Syair: “Wahai pemuda yang telah mendurhaka kepada Tuhan Arsy
Tahukah engkau apa balasan bagi penderhaka?
Neraka Sairlah bagi mereka, tempat kebinasaan
Celakalah mereka di hari rambut diikat.
Jika engkau sabar di neraka, maka bermaksiatlah
Jika tidak, jauhilah maksiat itu,
Dah dosa yang telah engkau lakukan
engkau telah menghina diri sendiri
Maka berusahalah untuk membebaskannya.” Mendengar syair tersebut, maka Utbah memekik sekali lagi, sehingga ia tidak sedarkan diri. Setelah sedar ia berkata: “Wahai Syeikh, apakah Tuhan akan menerima taubat daripada orang seperti aku? Syeikh menjawab: Siapa lagi yang akan menerima taubat seorang hamba yang berdosa, selain Tuhan yang Kuasa.”

Kemudian Utbah mengangkatkan kepalanya dan berdoa, dengan tiga doa yang masyhur:

1. “Ya Allah, seandainya Engkau terima taubatku, dan Engkau ampuni dosa-dosaku, maka kurniailah aku dengan pemahaman dan kuat dalam hafalan, sehingga nantinya aku dapat mengingat semua ilmu dan ayat-ayat Al-Quran yang-Ku dengar.”

2. “Ya Allah, kurniakanlah kepadaku dengan suara yang baik dan merdu, sehingga setiap orang yang mendengarkannya akan bertambah lembut hatinya, sekalipun ia berhati keras.”

3. “Ya Allah, kurniakanlah untukku rezeki yang halal dari jalan yang tak diduga.”

Maka Allah mengabulkan segala permintannya itu, sehingga bertambah kuat pemahaman dan hafalannya. Jika ia membaca ayat-ayat Al-Quran maka orang-orang yang mendengarkannya menjadi lembut hatinya dan akhirnya

0 comment:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More