5 Mar 2010

Keracunan Singkong sama Jengkol!

Keracunan adalah peristiwa masuknya zat racun ke dalam tubuh. Gejala klinis yang timbul sesuai dengan pengaruh zat racun tersebut yang terlihat pada sistem tubuh. Makanan beracun karena makanan tersebut mengandung zat-zat kimia yang berbahaya. Pada dasarnya, semua zat kimia dapat menimbulkan keracunan tergantung pada jumlah dan cara masuknya ke dalam tubuh. Dan ternyata salah dua (karena ada dua) makanan yang bisa bikin keracunan adalah singkong sama jengkol sob! Cekidot!

KERACUNAN SINGKONG (Cassava)
Keracunan terjadi karena singkong mengandung glikosida sianogenik linamarin (C10H17O6N) yang terdapat pada lapisan luar. Zat ini terdiri dari glukosa, aseton, dan asam sianida (HCN). Dalam jumlah kecil, HCN dapat dinetralkan tubuh menjadi tiosianat. Kadar HCN dalam singkong tergantung pada jenis singkong, kelembaban, ketinggian tanah dan pemupukan. HCN dapat menyebabkan terbentuknya sianmethemoglobin dan keracunan protoplasmic yang mengakibatkan ketidakmampuan jaringan mengambil oksigen. Kandungan HCN pada singkong dapat diuji dengan uji Guinard.



HCN dalam jumlah besar dapat mengakibatkan kematian dalam waktu singkat karena kegagalan pernafasan. Gejala awalnya terasa panas pada perut, mual, sesak, lemah dan pusing. Pernafasan cepat dan tercium bau khas (bau biter almond) pada nafas dan muntahan. Kemudian disusul pingsan, kejang yang akhirnya menjadi lemas, berkeringat, mata menonjol, pupil melebar, busa keluar dari mulut bercampur warna darah dan kulit menjadi merah. Penatalaksanaan dengan cara mengeliminasi racun dengan jalan muntah atau kumbah lambung, menghalangi penyerapan racun, dan pemberian antidotum (zat penawar) berupa amil/natrium nitrit dan Na-tiosulfat. Selain pemberian cairan intravena (infus), pemberian oksigen juga perlu.

KERACUNAN JENGKOL (Pithecolobium)
Sering dijumpai karena jengkol merupakan salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia. Faktor yang mendukung keracunan jengkol di antaranya adalah jumlah biji yang dimakan, makanan lain yang dimakan bersama jengkol, faktor alergi, jenis pohon dan tanah tempat jengkol ditanam, musim, dan sebagainya. Jengkol berisi asam jengkolat, suatu asam amino yang mengandung belerang. Jengkol berbeda dengan pete (parkia speciosa) karena pete tidak mengandung asam jengkol. Meskipun patogenesis belum jelas, diperkirakan keracunan disebabkan oleh bertumpuknya asam dalam bentuk kristal pada ginjal dan saluran kencing. Pada anak, keluhan timbul mulai 5-12 jam setelah makan.


Gejala klinis yang sering terjadi adalah sakit pinggang, nyeri perut, muntah, sakit waktu kencing, kencing berbau jengkol dan bercampur darah, air kemih keluar sedikit-sedikit dengan butir-butir putih sampai tidak keluar sama sekali, dan dapat terjadi gagal ginjal akut. Keracunan dapat dicegah dengan memasak biji jengkol dengan bikarbonat, misalnya soda. Bila terjadi keracunan, eliminasi racun dengan jalan muntah, bilas lambung, antidotum yang khas belum ada. Bila keracunan ringan, cukup dengan minum banyak air soda/natrium bikarbonat. Pemberian cairan intravena diperlukan bila pasien tidak dapat minum banyak. Bila terjadi gagal ginjal akut, dianjurkan dialisis dengan hemodialisis (cuci darah) atau dialisis peritoneal.



0 comment:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More