29 Agt 2009

Pemuda & Budaya Sebagai Identitas Bangsa

“Kecerdasan tanpa budaya adalah hal yang sia-sia karena hanya bisa menghasilkan banyak manusia pintar tetapi tidak arif dan bijaksana. Wajar saja saat ini mengapa bangsa-bangsa di dunia (termasuk Indonesia) mengalami stagnasi peradaban!”. Berikut adalah penggalan kalimat yang dipaparkan Prof. BJ Habibie dalam tesisnya yang berjudul Kecerdasan Tanpa Budaya. Menurut beliau lagi, bila ia harus memilih antara orang yang berbudaya tetapi tidak cerdas dengan orang cerdas tetapi tidak berbudaya, beliau akan memilih pilihan yang pertama.

Bila kita melihat tentang definisi kebudayaan, memang akan sangat jarang kita temukan keseragaman pendapat dari para pakar dan ahli. Definisi kebudayaan itu sendiri menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Kebudayaan menurut Parsudi Suparlan adalah suatu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan dan pengalamannya. Dan masih banyak lagi definisi kebudayaan yang lain. Lalu bagaimanakah kebudayaan di Indonesia saat ini?

Belum lama kita kembali dihebohkan dengan tindakan negara tetangga, Malaysia, yang menggunakan salah satu kebudayan kita yaitu Tari Pendet sebagai bagian dari iklan pariwisatanya. Kejadian ini bukanlah hal yang pertama kali dilakukan oleh negara tersebut. Sebelumnya angklung, reog Ponorogo, lagu rasa sayange, hingga kini yang terbaru adalah tari pendet telah mereka klaim sebagai kebudayaan mereka, padahal sudah sangat jelas semua itu adalah milik kita. Marahkah kita sebagai warga Indonesia? APAKAH CUKUP DENGAN HANYA MARAH KITA MENUNJUKKAN NASIONALISME DAN CINTA KITA TERHADAP BANGSA?

Tahukah kita bahwa tanpa kita sadari ini semua terjadi karena kesalahan kita juga. Karena kelalaian kita dalam menjaga kebudayaan, satu demi satu kebudayaan bangsa lepas ke tangan bangsa lain. Saat ini, sudah sangat jarang kita temui para pemuda terutama di kota-kota besar yang tahu apalagi memahami kebudayaan-kebudayaan bangsa kita, termasuk saya. Untuk seni musik, kita semua lebih menyukai lagu-lagu barat dibanding dengan lagu-lagu kedaerahan. Untuk tari, kita lebih suka salsa atau capoera dibanding tari-tari daerah. Apa jadinya jika para pemuda yang notabene adalah penerus generasi bangsa ke depan, tidak mengetahui apalagi memahami kebudayaan-kebudayaan bangsa? Apa jadinya jika pemuda tidak peduli dengan budaya-budaya bangsa kita?

Semuanya berawal dari tahun 16 September 1967 saat Malaysia merdeka, dan mereka pun masih mencari-cari Lagu Kebangsaan untuk negara mereka. Dan akhirnya terpilih lagu yang berjudul "NEGARAKU". Tapi tahukah kalian semua bahwa lagu berjudul NEGARAKU itu adalah lagu yang berasal dari Indonesia, yang berjudul TERANG BULAN. Mereka hanya mengubah sedikit liriknya saja. Coba saja dengar liriknya, nyaris tidak ada kata-kata perjuangan seperti lagu INDONESIA RAYA milik kita. Kala itu, semua warga Indonesia hanya bisa tertawa terbahak-bahak (bandingkan dengan sekarang).


Semua warga ternyata memaklumi tindakan Malaysia yang "mencuri" lagu kita karena mereka berpikiran "ah kasihan orang negara baru merdeka yasudah biarkan saja". Itulah awal mula pencurian yang dilakukan Malaysia. Bahkan untuk lagu kebangsaan saja, mereka mencuri kebudayaan kita. Dan sialnya, hal itu terus dilakukan Malaysia hingga sekarang. Kenapa bisa? KARENA TINDAKAN KITA JUGA YANG TIDAK TEGAS DAN "TERLALU BAIK" TERHADAP MEREKA! Seandainya kita tegas dan berani, saya pastikan mereka tidak akan berani lagi mencuri kebudayaan kita lagi!

Kontras memang membandingkan generasi muda di kota-kota besar dengan di daerah. Rata-rata para pemuda di daerah masih melesatarikan minimal budaya asli daerahnya. Bandingkan dengan generasi muda di kota-kota besar yang hampir seluruhnya telah mengikuti arus budaya global dan hanya sebagian kecil saja yang masih setia menyimak budaya lokal. Dengan seiring berkembangnya daerah-daerah di Indonesia, ancaman kepunahan budaya-budaya bangsa pun semakin jelas terlihat. Contoh nyata sangat jelas terlihat pada bahasa daerah kita. Dari total sebanyak 742 bahasa, sebanyak 169 bahasa terancam punah. Relakah kita satu per satu kebudayaan kita hilang, punah, atau dicuri bangsa lain? Relakah kita puluhan tahun depan bangsa ini tidak lagi memiliki kebudayaan yang melimpah?

Tidak cukup hanya dengan marah saja kita menjaga kebudayaan kita. Marilah kita melestarikan, minimal mengetahui dan menyukai budaya-budaya kita. Alangkah lebih baiknya jika kita juga mempelajari kebudayaan-kebudayaan bangsa ini. Ingat, pemuda adalah harapan utama penerus kebudayaan-kebudayaan bangsa Indonesia untuk ke depannya. Sudikah kita melihat satu demi satu identitas bangsa kita terus-menerus dicuri oleh bangsa lain? Wahai saudaraku, TIDAK CUKUP HANYA DENGAN MARAH, MEMBENCI, DAN MENCACI-MAKI MEREKA SAJA! KARENA INI SEMUA KESALAHAN KITA JUGA!


0 comment:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More